“Ayo pak kita pergi”…. “Tidak ah, belum bilang sama istri”
“Pak, besok jadi ikut?”….. “Belum tahu, belum bilang ke istri”
“Pak, jadi beli?” … “Nanti, ditanya dulu ke istri”
Adalah contoh-contoh percapakan yang menunjukan betapa istri seolah memiliki otoritas yang begitu tinggi terhadap banyak hal pada diri para suami. Apakah ini adalah bentuk penjajahan istri kepada suami atau apakah memang sudah demikian suami ‘menyerahkan’ diri begitu akad nikah dinyatakan sah.
Bahkan, seolah telah menjadi stereotype, ada yg selalu menunda menikah karena takut kebebasannya akan terbelunggu dengan sosok yg bernama istri. Biasanya dalam adegan melamar di film, si lelaki selalu mengucapkan “will u marry me” sambil memberikan cincin kepada calon istrinya. Tapi di salah satu cuplikan film lama (Bachleor, kl tidak salah), si lelaki justru mengatakan (kira-kira), “Alright you win”, sambil memberikan cincin. Suatu ilustrasi dalam film bahwa ada sekelompok lelaki melihat bahwa pernikahan adalah bentuk penyerahan diri.
Apakah memang demikian? Ada yang mengatakan bahwa perempuan tidak diciptakan dari tulang kepala untuk menguasai, bukan juga dari tulang kaki untuk dihina dan dinjak-injak, tetapi dia diciptakan dari tulang rusuk untuk disayang dan menjadi pendamping hidup.
Alangkah sengsaranya jika teman hidup kita adalah sesuatu yang selalu kita takutkan. Akan ada 24 jam sehari, 7 hari seminggu, kita akan dihantui oleh ketakutan-ketakutan, yang kalau dipikirkan sebenar itu adalah ketakutan yang kita (para suami) buat sendiri.
Marahnya istri karena kita pergi barangkali adalah bentuk manja dia agar kita selalu didekatnya.
Marahnya istri karena kita membeli sesuatu adalah mungkin dia berpikir alangkah lebih baik jika uang itu digunakan untuk makan malam berdua di restoran kenangan saat pacaran.
Istri bukan sosok untuk ditakuti. Dia adalah sosok yg begitu mulai, yang selalu menemani kita saat susah dan senang. Dia juga adalah invisible hand atas segala keberhasilan kita. Tidak ada suami sukses tanpa tangan dingin sang istri.
“Bilang dulu sama istri” bukan bentuk ketakutan pada sosok yang bernama istri. Sikap itu justru adalah bentuk cinta dan penghargaan yang tertinggi pada sosok itu.
Istri adalah anugrah terindah yang diberikan oleh Alloh kepada kita. Cintailah sebagaimana kita mencintai diri kita karena dia adalah separuh jiwa kita. Jangan disia-siakan.
Bandung, 11 Feb 2011
terinspirasi dari sebuah percakapan