Australia Mencabut Larangan Eksport Sapi Ke Indonesia. Begitu berita dalam running text di sebuah station tv. Tidak lama sejak larangan itu diberlakukan, Australia segera mancabutnya. Apakah ini bentuk niat baik Australia pada Indonesia? Apakah ini bentuk respon cepat Kementrian Pertanian kita merespon boikot ekspor Australia. Ternyata bukan itu semua.
Sejak ada larangan ekspor, Indonesia, seperti biasa, memang tidak terlalu responsif. Anehnya, demikian juga Australia yg juga tidak menuntut macam-macam seperti halnya kasus2 lain di Papua dan kawasan Indonesia Timur. Ada apa ini?
Tidak terlalu sulit untuk membacanya. Jelang Puasa dan nanti Lebaran, kebutuhan daging sapi dalam negeri akan meningkat tajam. Jika larangan itu masih diberlakukan, masih banyak negara lain yang siap memenuhi kebutuhan daging sapi, bahkan China pun siap (mudah2an bukan sapi plastik made in China). Australia tahu itu dan tidak mau ketinggalan. Jadi Australia lupakan masalah hak azazi hewan yg selama ini selalu didengung-dengungkan. Ada keuntungan besar di depan mata yg rugi kalau hilang hanya karena masalah2 prinsip yg ‘tidak signifikan’. Akhirnya UANG BERBICARA. Lupakan semua prinsip2 indah itu kalau ada uang besar di sana.
Padahal, dg adanya larangan ekspor ini, para petani lokal kita sudah siap meraup keuntungan di bulan Ramadhan dan Hari Raya.
Hikmah:
Kita tidak pernah akan jadi bangsa besar masih mengandalkan semua kebutuhan pada IMPOR.
Otw office, 7 Juli 2011