Sony S Wibowo

Just another Sony's weblog

Diakhir Tahun ini

Matahari mulai turun ke peraduan setelah lelah mencoba mnyingkirkan mendung dan hujan yg sudah hadir sejak tengah hari. Rintik hujan dan riak kolam oleh ikan menemaniku yg duduk di gazebo kayu yg nyaman. Coklat hangat, alunan musik di telinga dan novel favorit ikut serta bersama menikmati dinginnya kawasan puncak. Suatu kesendirian yg nyaman.

Momen ini sptnya baik utk menutup tahun ini, setelah hampir 300 hari yg melelahkan yg sangat menyedot banyak energi. Tiga sampai empat kali terpaksa jatuh terpuruk krn fisik menolak berkompromi mengejar waktu. Berkali-kali jatuh bangun meraih asa mengejar cita dan tentu saja beberapa poin eksistensi diri. Tapi dari semua ini, yg terberat adlah saat aku berjarak denganNYA. Puluhan kali terjadi jarak yg cukup nyata antara aku dan DIA. Dan puluhan kali pula justru DIAlah yg selalu memulai untuk mendekat. Bahkan saat aku masih terus berjarak, DIA cubit aku dg kasih sayangNYA. Tangan kuasaNYA selalu bisa utk merengkuhku kembali. Dan selalu akhirnya penyesalan yg datang kemudian yg hanya bisa disampaikan dg mata berkaca di sepertiga malam atau di keheningan seperti ini.

Ya Alloh, tahun 2012 akan segera Engkau tutup. Tidak banyak yg aku lakukan untuk membuatmu tetap tersenyum. Tapi Engkau tidak pernah bosan utk terus mengingatkanku dg cara yg luar biasa dan tdk disangka2.

Ya Alloh, snbtr lagi aku akan masuk di tahun 2013. Kalau memang ada waktuku di tahun itu, tetaplah Engkau ada di sampingku karena tiada daya dan upaya diriku tanpa izin dan kuasaMU.
Ya Alloh, hanya kepadaMU aku berserah diri.

Curahan air tetap turun walau matahari sdh diperaduan. Langit kelam dan mendung. Bintang pun enggan keluar di malam yg dingin ini. Kutatap lama langit gelap. Tak sadar aku tersenyum sendiri. Aku tahu Engkau sedang menatapku saat ini. Mungkin KAU pun tersenyum krn tahu bagaimana aku akan melalui satu tahun ke depan.
Aku percaya padamu ya Alloh. Dan aku serahkan hidup dan matiku untukMU. Jangan biarkan aku berjarak dg MU, ya Alloh.

Pukul 17.55 di kawasan Puncak, sepuluh hari sebelum tutup tahun 2012.

Suatu Siklus pada Sebuah Waktu

Roda kereta api perlahan bergerak meninggalkan stasiun kecil itu. Anak2 kecil berteriak sambil melambaikan tangan, mengikuti gerak kereta yg mulai mempercepat lajunya. Kaki telanjang mereka tdk menjadi halangan untuk berlari.
Roda kereta kemudian terus bergulir memberikan ayunan2 kecil pada penumpang di dalamnya.
Hamparan sawah basah terbentang luas dari jendela kelas eksekutif ini. Terik matahari tidak menyurutkan semangat petani utk mengolah dan mengaduk lumpur2 sawah. Setiap ayunan cangkulnya adalah harapan kehidupan yg lebih baik saat panen kelak. Setiap ayunannya pun berarti tantangan. Burung2 bangau yg enggan berpanas-panasan mencari cacing2 yg keluar dari tanah lumpur di sela2 bayangan pohon.
Roda kereta kemudian terus bergulir memberikan ketukan2 konstan dari setiap sambungan relnya. Penjaja makanan tidak bosan hilir mudik membawa makanan dan minuman pesanan penumpang.
Di luar, walau saat itu adalah tengah hari, awan sudah mulai menutup sedikit2 wajah sang surya. Semoga turun hari nanti awan semakin banyak dan memberikan berkah hujan pada hamparan kebun dibawahnya, dimana sekelompok kambing lahap memakan rumput pada lapangan sepakbola kampung di pinggir desa.
Roda kereta kemudian terus bergulir dan bergerak perlahan saat melewati jembatan yg terbentang panjang.
Sungai di bawah jembatan tampak meluap. Mungkin sudah hujan di daerah hulunya. Tidak terlihat riak2 air yg menandakan sungai itu cukup dalam. Potongan2 ranting tampak pasrah di bawa kemana air mengalir. Tidak melawan tidak membangkang.
Roda kereta kemudian terus bergulir dan mulai melambatkan lajunya karena akan masuk kembali pada stasiun kecil; untuk menunggu persimpangan dengan kereta dari arah berlawanan. Beberapa anak kecil tampak berjejer di sisi kereta. Seolah bersiap untuk berteriak dan mengejar saat nanti kereta bergerak meninggalkan stasiun.
Lengkap sudah suatu silkus waktu dalam suatu perjalanan kereta..

Kereta Lodaya Pagi, awal Des 2012

Cinta yg tak Pernah Padam

Rangkaian kereta melaju mantap menyusuri persawahan di Yogyakarta. Nanti, lima jam kemudian kota Bandung akan menyambutku pulang. Ada cinta menungguku di sana.

Alunan ‘Laguku’ dari Ungu seolah mewakili gejolak hati yg terayun-ayun oleh putaran roda kereta.

Aku memang belum dapat memberikan yg terbaik untuknya tapi tetap yg terbaik akan kulakukan dg energi cinta yg tak pernah padam ini.

Yogya-Bandung, Sep 2012

Terima kasih Tuhan

Diantara bentangan sayap besi yg membawaku kembali dari Yogya, kota yg selalu ingin kukembali, bentangan pegunungan tersebut begitu indah dan memikat. Langit bersih dan hanya menyisakan sedikit kumpulan awan putih tipis di puncak2 gunung berapi. Torehan sungai yg meliuk-liuk di sela hamparan hijau memberi sentuhan tersendiri pada keindahan yg tersaji. Gemuruh lembut mesin dan lagu apik dalam ruang telingan memberi kenyamanan tersendiri dalam menikmati karya Ilahi yg tersaji dalam bingkai kecil jendela pesawat.
Tuhan, terima kasih atas karuniaMU yg sangat luar biasa ini.

Langit Yogya-Bandung, 18 Maret 2012

Pelajaran Kecil dari Tuhan 3

Bangga memang pernah jalan2 ke Eropa; senang sdh menikmati keindahan Jepang; bahkan rasanya sudah bosan dengan Singapore, Malaysia, dan Thailand. Tapi semua itu tidak ada artinya dengan keindahan Indonesia.

Gemuruh ombak pantai selatan yg memukau; gunung tinggi yg tetap cantik walau lagi marah; sungai jernih yg tenang menghanyutkan; danau hijau yg seolah menyimpan keindahan tersembunyi; bahkan hanya sekedar angin di sela2 hutan pinus bisa memberi rasa keindahan yg sederhana. Indonesi memang (luar biasa) indah…

Satu keinginan adalah ingin menikmati setiap keindahan yg ditawarkan di setiap jengkal negeri yg Tuhan ciptakan dg rasa keindahanNYA.

Tepi Danau Tondano, 16 Juli 2011

Pelajaran Kecil dari Tuhan 2

Dengan ditemani oleh Okina Furu Tokei dari Hirai Ken terlihat batas langit yg mulai jingga di sela2 sayap pesawat.

Masih terlihat puncak gunung Semeru di sela2 awan di langit yg mulai gelap. Lukisan Tuhan di langit yg begitu indah memberikan kesejukan tersendiri.

Lalu, masihkah kita mendustakan nikmat Tuhan?

Suatu magrib di atas Jawa Timur.

Pelajaran Kecil dari Tuhan 1

Awalnya enggan sekali gabung dg barisan sholat jamaah itu. Tampang imamnya mengingatkan pada vokalis Kangen Band, dengan model rambut yg acak2an itu. Jean lusuh dan kaos ketatnya menguatkan rasa utk sholat sendiri saja. Tapi karena ingat ganjaran pahala berjamaah yg 27kali serta tidak cukup ruang utk sholat sendiri, akhirnya diputuskan utk gabung saja.

Tapi subhanallah, bacaan Al Fatihah nya ternyata begitu merdu. Alunan pilihan ayat yg bukan dari juz terakhir, begitu syahdu diperdengarkan. Lafad Allohuakbar nya begitu mantap dan tegas yg menggetarkan jiwa.

Ya Alloh, maafkan hambuMU ini yg hanya bisa hadir dg salah satu batik terbaiknya, tampilan yg ‘jauh lebih terdidik’, dan prasangka buruk atas ciptaanMU.

Ya Alloh, maafkan atas kelancanganku ini…

Suatu Magrib di BIP, Bandung