Feeds:
Tulisan
Komentar

Di sebuah toko emas, seorang ibu tua sederhana tampak sibuk memilih gelang emas yang tampaknya akan dibelikan anak perempuannya yang terlihat sudah sukses. Kebaya ibu yang sederhana yg tidak cocok dg warna kerudungnya tampak kontras dengan tampilan ala artis yang cukup serasi yang dikenakan anaknya.

Berkali-kali sang ibu mencoba model2 gelang yang ada. Gelang dikenakan pada lengannya yang tua dan keriput dan meminta pendapat anaknya. Setiap pilihan gelang ibunya itu hanya dilirik sekilas dan dikomentari singkat oleh anaknya yg mata dan tangannya tidak pernah lepas dari blackberry berbalut pelindung casing warna merah. Setiap model gelang yang dicoba, perlu waktu lama untuk mendapatkan lirikan dan komenntar dari anaknya karena harus menunggu dulu dia menyelesaikan ketikan di BB merah itu. Wajah lelah penantian sang ibu dan kerut bosan penjaga toko yang melayaninya seolah belum cukup untuk menghentikan sejenak aktivitas ber-BB-nya dan sedikit memberi perhatian pada orang tuanya.

Lain cerita, di sebuah rumah makan kecil yg terkenal di Bandung yg pelayanannya prasmanan (ambil sediri nasi dan lauknya, bayar di kasir dan makan). Beberapa orang datang dan langsung masuk antrian yg relatif kosong. Tiga orang terdepan dalam antrian, di depan pengambilan nasi, tampak semua sibuk dengan BB dan hapenya masing2. Sapaan selamat siang dan pertanyaan apakah mau pesan sop tidak dijawab. Mata dan tangannya tidak melepas sedikit pun dari hape dan BB. Sang pelayan tampaknya cukup menegerti dan sabar menunggu tapi orang2 pada antrian di belakangnya tampak gelisah dan terganggu karena antrian tidak bergerak sedikit pun.

Ini hanya cerita singkat di hari Sabtu yang terik, dalam kurun waktu kuran dari satu jam. Ada apa dengan generasi sekarang? Begitu pentingnya kah terkoneksi dengan orang yang jauh di belahan bumi sana sampai harus mengabaikan orang2 yang jelas ada di sekitar kita. Padahal justru orang2 yg di sekitar kitalah yang pertama kali menolong kita jika ada musibah.

Simpan sebentar hapemu dan lihatlah bahwa dunia tidak selebar 3 inchi!!… emang enak dicuekin!!

Bandung, 7 Nop 09

Tampaknya sulit sekali melakukan suatu perubahan yang baik di negeri ini. Apalagi jika yang melakukan perubahan baik itu adalah pemerintah atau salah satu unsur pemerintah. Baru sebuah niatan saja, celaan dan prasangka buruk bermunculan. Belum lagi ditambah dengan omelan2 yang tidak jelas dan berkembang kemana-mana.

Teringat salah satu ceramah silahturahmi di ITB kemarin, bahwa puasa melatih kecerdasan spiritual. Seperti apakah kecerdasan spiritual itu? Setuju dengan pendapat uztad bahwa hati kita bisa diumpamakan sebagai ruang yang memiliki banyak bilik. Setiap bilik adalah tempat menyimpan segala bentuk emosi yang ada. Rasa benci, rasa tidak suka, sirik, iri, senang, terkejut, jengkel, geram, cinta, nafsu, sebal, sayang, perhatian, sabar, prasangka baik, prasangka buruk, dan lain-lain telah disediakan biliknya masing-masing. Di dalam hati, bilik2 itu pun diatur sedemikian rupa agar tidak sembarangan terbuka. Bilik yang terbuka akan memberikan ekspresi tubuh yang sesuai dengan bilik tersebut. Kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk mengatur bilik2 yang ada dalam hati agar selalu yang terbaiklah yang terbuka. Setiap bilik yang terbuka selalu memiliki konsekuensinya masing-masing.

Spiritual yang cerdas akan tahu bagaimana menentukan bilik yang baik sebagai ekspresi atas suatu kejadian yang dialami. Kita tahu bahwa apa yang dilakukan pemerintah kita masih jauh sekali dari yang kita harapkan. Tetapi tidak lantas semua yang dari pemerintah adalah salah. Bedanya orang kalah dan orang menang adalah pada bagaimana dia menghargai sesuatu dan kemampuan berpikir objektif. Orang kalah tidak akan pernah menghargai orang lain dan dia akan tetap kalah karena selalu menimpakan kekalahannya pada orang lain. Kalau dalam olah raga, tim sportif yang kalah akan mengakui kekalahannya dan memberi selamat bagi yang menang. Tapi orang yang kalah dalam kehidupan akan selalu mencari kesalahan orang lain untuk menutupi ketidakmampuannya. Dan dia tidak akan berhenti sebelum orang lain menjadi kalah atau lebih kalah dari dia.

Orang kalah selalu melihat pemerintah dengan kacamata negatif. Apa yang dilakukan pemerintah adalah salah dan apa yang ada dalam pikirannya dia adalah selalu benar. Orang seperti ini biasanya selalu berprasangka buruk dalam banyak hal dan cenderung egois dan licik. Jika memungkinkan, dia pun akan mengambil kesempatan dalam kondisi kesempitan sekalipun.

Di negara kita terlalu banyak orang yg kalah. Orang2 ini yang kemudian menjadi batu sandungan bagi segala perubahan ke arah kebaikan. Mereka kalah karena spiritualnya kurang cerdas untuk mengatur bilik2 yang ada di dalam hati agar selalu bilik yang baik saja yang terbuka. Ketidakcerdasan spiritual bukan cacat bawaan. Seperti juga hidup adalah pilihan, maka untuk menjadi cerdas atau tidak cerdas secara spiritual juga adalah pilihan.

So, the choice is yours…

Urbanisasi adalah cerita klasik yg selalu terjadi di akhir masa2 liburan Lebaran. Ber-bondong2 pendatang baru  dari daerah sekitar masuk ke kota2 besar untuk merengut sedikit asa yang sudah sangat jarang ada di daerah. Ketidaksiapan mereka yang masuk ke kota untuk bertahan dan berkembang di dalam kota, lingkungan yg sangat baru bagi mereka, membuat urbanisasi tidak lebih dari perpindahan kemiskinan dari daerah ke kota.

‘Operasi KTP’ yg sering dilakukan untuk menekan arus urbanisasi tidak lebih dari sekedar penghibur untuk aparat kota atau pelengkap laporan kerja. We’ve done something but it is beyond our capabilities, begitu mereka akan berkilah saat pertangunggjawaban atau modal kampanye untuk pencalonan berikutnya.

Lebih kentara lagi, puluhan pamong praja saat ini disiapkan di terminal2 bus untuk merazia mereka yg masuk tanpa izin ke dalam kota. Mereka yg tampangnya ndeso, baju lusuh dan tidak ‘matching’, serta bawa barang dengan kardus atau plastik (bukan koper) dipastikan sebagai prime suspect org2 daerah yg akan terjaring dan dilabeli tidak layak masuk kota. Atau mereka yg dandan berlebih tapi bengong saat mengijakan kakinya di terminal akan juga kena operasi yg konon demi ketertiban kota. Cara razia yg agak rasis memang, tapi memang demikianlah kemampuan berpikir mereka yg konon adalah garda terdepan kamtib kota.

Memang treatment urbanisasi kita hampir sama dengan treatment yg kita lakukan untuk pencegahan wabah flu burung, flu babi, atau wabah penyakit lainnya. Urbanisasi dalam kacamata pemkot adalah wabah penyakit yg harus dihindari dan kalai perlu dibasmi? Tapi apakah memang demikian? Apakah memang sedemikian parahkah urbanisasi sehingga harus dilabeli dan diperlakukan sebagai penyakit menular yg berbahaya?

Kayaknya agak salah point of view kita selama ini melihat urbanisasi. Bagaimana pun juga, urbanisasi adalah fenomena sosial yg pasti akan terjadi. Urbanisasi sudah ada sejak definisi kota itu ada. Kota tanpa urbanisasi adalah kota yg sekarat, kota yg mati. Kalau kita lihat sejarah perkembangan kota2 besar dunia, di masa lampau dan sampai sekarang, tidak ada kota besar yg tidak berkembang tanpa bantuan urbanisasi. Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, bahkan Bangkok, Tokyo, Seoul, Shanghai, Hong Kong, Beijing, London, Paris, San Fransisco, dan sebagainya, bisa menjadi besar seperti sekarang ini adalah karena adanya arus urbanisasi. Kota2 jadul seperti Roma, Baghdad, dan Istambul pun berkembang karena adanya urbanisasi.

Urbanisasi memang selalu memberi ekses negatif pada kota. Tapi dari sisi perkembangan kota, ekses negatifnya masih jauh lebih sedikit dari manfaatnya bagi perkembangan kota. Jangan hanya karena tidak mampu menangai ekes jadi langsung menyalahkan yang utama. Ini, lagi2, konsep ‘bakar lumbung untuk basmi tikus. Lumbung habis terbakar tapi tikus belum tentu hilang’ untuk menyelesaikan masalah.

Lalu apa solusinya?

IMHO, seharusnya disadari bahwa perkembangan kota tidak lepas dari perkembangan daerah2 sekitarnya. Kota yg sombong yg memandang urbanisasi sebagai wabah penyakit adalah kota yg menaifkan ketergantungannya terhadap daerah2 sekitar. Kota itu lupa bahwa keberhasilan kota itu tumbuh tidak lepas dari peran daerah2 sekitarnya. Salah satu pandangan bijak melihat urbanisasi adalah kota jangan ingin maju sendiri tanpa memperdulikan peran daerah sekitar. Artinya, kalau mau maju, majulah bersama2.

From the view of transportation, memberikan akses mudah antara kota dan daerah adalah salah satu cara untuk maju bersama2 antara kota dan daerah. Selama ini ada pandangan yg salah kalau akses ke kota dari daerah begitu mudah, maka akan ada eksodus besar2an penduduk desa ke kota. Ini tidak tepat. justru dengan adanya akses yg mudah, penduduk desa akan mudah ke kota dan juga akan mudah kembali ke desa. Akses yg mudah akan membuat kota menjadi sesuatu yg mudah dicapai dan bukan sebuah mimpi untuk dicapai. Akses yg mudah antara kota dan desa (daerah) akan menghilangkan (setidaknya mengurangi secara signifikan) jurang perbedaaan kemakmuran antara kota dan desa.

Konsep akses yang baik antara kota dan daerah ini bukan hal yang baru dalam penanganan masalah aspek negatif dari urbanisasi. Hanya saja dalam aplikasinya kadang konsep akses ini justru bagian dari awal rencan pencaplokan wilayah dengan dalil perluasan wilayah kota. Ini yang menjadi salah lagi.

Kan lebih baik menyediakannya dalam mangkuk2 yg berbagai ukuran yg sesuai sehingga mudah mengaturnya dari pada memasukan semuanya dalam satu baskom yg besar. Di dalam baskom yg besar, selain sulit mengaturnya, juga terlihat berantakan dan tidak menarik.

Apakah para pengambil keputusan berpikir seperti ini? Semoga..

Bandung, Sep 2009.

Adalah sudah menjadi prosedur pelaksanaan Tugas Akhir (TA) di Teknik Sipil ITB bahwa ada tahapan Presentasi Proposal (PP) sebelum dilakukan Sidang TA (Pendadaran kalau teman2 UGM mengatakannya). Dalam tahapan presentasi Proposal, di hadapan pembimbing, mahasiswa mempresentasikan topik penelitian, lengkap dengan tujuan yang ingin dicapai, caranya (metodologi), dan rencana pengumpulan data yang akan dilakukannya. Tujuannya presentasi ini adalah agar mahasiswa dan pembimbing memiliki persepsi yang sama tentang topik dan lingkup pekerjaan yang akan dilakukan untuk Tugas Akhir. Jangan sampai mahasiswa melakukan terlalu jauh yang akibatnya menjadi tidak pernah selesai.

Layaknya sebuah proposal, maka isinya adalah (utamanya) objektif, batasan, dan metodologi yang umumnya adalah framework dari topik yg dipilih. Hal yang penting lain dalam proposal adalah literature yang sudah dikaji yang terkait dengan topik yg ingin digarap. Untuk tingkat S1, kajian literature ini lebih pada untuk mengetahui sejauh mana mahasiswa memahami topik dan metode yang akan dilakukan.

Biasanya setelah presentasi proposal, mahasiswa mulai melakukan pengumpulan data (berdasarkan metode yg telah disepakati dalam presentasi), analisis, dan penulisan TA. Selama proses tersebut biasanya dilakukan konsultasi dengan dosen pembimbing. Jika semuanya OK dan penulisan TA sudah lengkap (minimal 90%an) maka mulai dirancang sidang TA. Umumnya dalam sidang TA, mahasiswa calon ST (Sarjana Teknik) menyerahkan draft lengkap TA untuk diujikan. Setelah sidang dan jika dinyatakan lulus maka mahasiswa tinggal melakukan perbaikan (kalau ada) dan kemudian memperbanyak serta menjilid TA-nya sesuai ketentuan format dokumen tugas akhir yg ditetapkan ITB. Nilai Tugas Akhir biasanya dimasukan ke Fakultas setelah dokumen TA ditandatangani oleh pembimbing. Setelah melalui Sidang Penetapan Kelulusan yang dilakukan oleh seluruh staf pengajar, maka data mahasiswa ybs beserta dokumen TA-nya dikirim ke pusat (ITB) untuk ditetapkan kelulusannya, didaftarkan sebagai peserta wisuda, serta dibuat ijazah kesarjanaannya. Inilah proses yg normal dalam penyelenggaraan Tugas Akhir, dari awal hingga lulus.

Lalu apa jadinya jika saat presentasi proposal Tugas Akhir justru draft TA yang siap jilid yang diberikan. Lebih konyol lagi jika saat presentasi disajikan juga rencana kerja yang mencantumkan jadwal Sidang yang dilakukan seminggu kemudian, setelah presentasi proposal. Artinya mahasiswa begitu yakin bahwa draftnya tidak ada masalah sehingga yakin minggu depan dapat sidang dan yakin juga dapat lulus (dengan sudah melakukan pendaftaran wisuda). Dengan kondisi ini, status pembimbing tidak lebih hanya sebagai stempel kelulusan. Luar biasa mahasiswa sekarang.

Lebih parah lagi ternyata draft yang disajikan pada presentasi proposal isinya jauh dari harapan. Asumsi yg diambil salah, program (software) yg dijalankan walau tidak error tapi GIGO (Garbage In, Garbage Out), dan cara penulisan serta pemilihan bahasa sangat jauh dari apa yang disebut Bahasa Indonesia baku yg dituntut dalam penulisan dokumen ilmiah setingkat TA ini.

Sebagai pembimbing, tidak ingin rasanya memberikan Status FAILED, walaupun mereka layak untuk itu. Setelah diberi banyak masukan, mhs tersebut kemudian diberi kesempatan untuk memperbaiki kembali TA-nya dan merencanakan sidang TA pada periode wisuda berikutnya (sekitar empat bulan kemudian). Harapannya dengan waktu tambahan tersebut mhs mendapat cukup waktu untuk memperbaiki TA-nya dan berdiskusi lebih baik dengan pembimbingnya.

Ada peribahasa yang mengatakan kalau keledai tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Ironi kalau manusia tidak pernah belajar dari kesalahannya dan kembali melakukannya berkali-kali. Ini yg terjadi pada mahasiswa itu. Setelah presentasi proposal, mereka seperti hilang tidak tentu kabarnya. Baru kemarin, minggu kedua September, tanpa pernah diskusi dan asistensi, mereka datang dan memberikan draft tugas akhirnya, lengkap. Dan kembali mereka menyisipkan rencana sidang, seolah revisi dari pembimbing hanyalah hal minor. Padahal isi draft TA-nya tidak jauh berbeda dengan draft yg diberikan saat presentasi proposal. Artinya mereka kembali memposisikan pembimbing sebagai tukang stempel kelulusan. Benar-benar luar biasa mahasiswa sekarang!

Sebagai pembimbing saya tidak akan terpengaruh dengan fait accompli mereka. Saya pun tidak akan menghalangi kelulusan mereka. Tanggal jadwal sidang itu saya anggap tidak ada. Draft TA tetap akan saya periksa agar sesuai dengan standar TA yang baik dan yang pasti sesuai dengan waktu yg saya punya (saat ini ada 2 dokumen TA dan 3 dokumen thesis S2 yg harus diperiksa dan menjelang lebaran). Kalau memang pantas untuk disidangkan, ya disidangkan. Masalah apakah bisa untuk wisuda periode ini atau malah jadi geser lagi bukan jadi perhatian saya, krn saya bukan tukang stempel kelulusan.

Bandung, September 2009

Jadwal Lengkap Siaran Langsung

Hari

Tanggal

Pukul

Partai

Stadion

TV

Group A
Minggu 14 Juni 2009 21.00 WIB Afrika Selatan VS Irak Ellis Park-Johannesburg

RCTI

Senin 15 Juni 2009 01.30 WIB Selandia Baru VS Spanyol Royal Bafokeng-Rustenburg

Global TV

Rabu 17 Juni 2009 21.00 WIB Spanyol VS Irak The Free State-Bloemfontein

Global TV

Kamis 18 Juni 2009 01.30 WIB Afrika Selatan VS Selandia Baru Royal Bafokeng-Rustenburg

RCTI

Minggu 21 Juni 2009 01.30 WIB Irak VS Selandia Baru Ellis Park-Johannesburg

Global TV

01.30 WIB Spanyol VS Afrika Selatan The Free State-Bloemfontein

RCTI

Group B
Senin 15 Juni 2009 21.00 WIB Brasil VS Mesir The Free State-Bloemfontein

Global TV

Selasa 16 Juni 2009 01.30 WIB Amerika serikat VS Italia Loftus Versfeld-Pretoria

RCTI

Kamis 18 Juni 2009 21.00 WIB Amerika serikat VS Brasil Stadion Loftus Versfeld-Pretoria

Global TV

Jum’at 19 Juni 2009 01.30 WIB Mesir VS Italia Ellis Park-Johannesburg

RCTI

Senin 22 Juni 2009 01.30 WIB Mesir VS Amerika serikat Royal Bafokeng-Rustenburg

Global TV

01.30 WIB Italia VS Brasil Loftus Versfeld-Pretoria

Global TV (?)

Semifinal I
Kamis 25 Juni 2009 01.30 WIB Juara Grup A VS Runner-Up Grup B The Free State-Bloemfontein

RCTI

Semifinal II
Jum’at 26 juni 2009 01.30 WIB Juara Grup B VS Runner-Up Grup A Ellis Park-Johannesburg

RCTI

Tempat ketiga
Minggu 28 Juni 2009 20.30 WIB Kalah semifinal I VS Kalah semifinal II Ellis Park-Johannesburg

Global TV

Final
Senin 29 Juni 2009 01.30 WIB Pemenang semifinal I VS Pemenang semifinal II Royal Bafokeng-Rustenburg

RCTI

Sumber: Tabloid BOLA

Sebuah keprihatinan saat mendengar ada rencana sebagian ulama NU untuk mengeluarkan fatwa pengharaman FB. Lepas dari pengguna setia atau isu afiliasi FB (lihat: I lost friends), keprihatinan ini timbul dari alasan mereka mengharamkan. FB haram kalau digunakan untuk selingkuh? Betapa naifnya. Seberapa besar sih potensi terjadi selingkuh di FB, dibandingkan dengan penggunaan hp, misalnya? Bandingkan pula dengan situasi di kantor, yg bisa sampai 15 jam bersama tiap hari dan dalam tampilan terbaik (gak mungkin kan ke kantor gak mandi dan gak berias), tanpa FB dan hp sekali pun.

Selingkuh adalah masalah niat dan usaha. Dari dulu selingkuh sudah ada, bersamaan dengan adanya lembaga perkawinan. Banyak cara orang melakukan selingkuh dan banyak tempat dimana selingkuh dapat terjadi. Bahkan di forum pengajian dan perjalanan umrah/haji pun, kalau sudah niat, selingkuh dapat terjadi. Kalau alasan pengharaman FB adalah potensi untuk selingkuh, semua bentuk interaksi dan komunikasi manusia otomatis bisa diharamkan, karena semua itu memiliki potensi juga. Plis jangan lebay dong!

Isu pengharaman FB hanya memperlihatkan betapa rendahnya pemahaman apa itu internet di kalangan ulama kita. Internet adalah media atau alat sebagaimana halnya dengan buku, radio, dan televisi. Di dalamnya ada emas dan ada juga sampah, ada nama Alloh yang dipuja ada juga nama iblis yang disembah, semua ada. Baik tidaknya internet untuk kita bukan tergantung pada internetnya, tapi kepada bagaimana kita menggunakannya. Bagaimana Islam bisa maju kalau para ‘penganti rasul’ masih keteteran mengikuti perkembangan zaman, bahkan belum mampu membuka tempurung yang selama ini menutupinya. Bagaimana mereka dapat bersikap memimpin umat kalau apa yang ada di dalam umat pun mereka tidak paham.

Adalah tugas dan tantangan kita, yang diberi kemampuan lebih dapat melihat di atas tempurung, untuk membantu mereka.

Menjelang ujian, baik mid-tes atau ujian akhir, selalu ada pemikiran saat membuat soal, apakah akan diberikan dalam bentuk opened book (buka buku) kah atau closed book (tutup buku) kah. Jika ini ditawarkan kepada mahasiswa, jawaban umumnya hampir semua minta opened book. Alasannya mungkin sangat sederhana, yaitu kalau opened book tidak perlu belajar banyak dan tidak perlu menghapal rumus. Dengan kata lain ujian opened book is less effort than closed book. Tapi benarkah demikian?

Ujian adalah bentuk evaluasi untuk mengkaji sejauh mana pemahaman mahasiswa terhadap materi yang sudah diberikan dalam satu semester (sekitar 16 minggu). UJian pun adalah bentuk seleksi untuk menentukan mahasiswa layak atau tidak layak lanjut di sisa masa studinya. Sejauh ini, untuk menguji dan mengevaluasi pemahaman dari materi yg diberikan dalam kuliah biasanya digunakan ujian dengan sistem closed book. Sistem ujian seperti itu pun penting untuk menguji penyerapan materi kuliah yg bersifat basic knowledge yg menjadi dasar untuk memahami materi2 lanjutan di semester2 berikutnya. Pada ujian closed book, proporsi memorized cukup besar dibandingkan dalam ujian opened book. Dalam banyak hal, memorized adalah cara efektif untuk menguasai basic knowledge (ingat, penguasaan perkalian sebagai dasar berhitung pun adalah efektif dengan cara memorized).

Hal sebaliknya adalah jika yg diharapkan kemampuan analisis, yang lebih tinggi tahapannya dari sekedar tahu dan memahami, maka ujian dengan sistem opened book adalah lebih cocok. Pada ujian opened book diasumsikan bahwa mahasiswa sudah paham atau minimal tahu dasar ilmunya sehingga pertanyaan sudah tidak lagi ‘berapa’ tapi ‘mengapa’. Pada ujian opened book biasanya dituntut kemampuan membandingkan sesuatu dengan sesuatu atau analisis sesuatu karena menjadi sesuatu. Cara menghitung atau bagaimana mendapatkan sesuatu bukan menjadi bobot utama penilaian.

Nah, dapat dibayangkan kalau mahasiswa belum memahami materi kuliahnya dengan baik dan minta ujian opened book maka yang terjadi saat 3(tiga) jam ujian adalah sebagai berikut:

Satu jam pertama adalah mencari-cari di buku dan handout kuliah, siapa tahu ada contoh soal atau contoh analisis yg kira2 mendekati (syukur2 sama) dengan soal yang diujikan. Satu jam kedua adalah untuk mencoba-coba cara menghitung yang ada di buku atau handout dengan angka atau data dari soal. Dan satu jam ketiga adalah untuk mengerjakan soal. Padahal, tiga jam soal opened book itu biasanya terdiri dari tahapan menghitung besaran2 yg ditanyakan, membandingkan atau melakukan analisis pada besaran2 yg telah didapatkan dengan teori2 yg ada, dan membuat kajian dan kemudian simpulan. Rumus untuk menghitung besaran dan teori yg ingin dibandingkan dapat dilihat di buku, tidak perlu dihapalkan.

Dengan demikian, sebenarnya belajar untuk ujian opened book justru jauh lebih berat dibandingkan dengan belajar untuk ujian closed book. Untuk ujian opened book, tahu rumus saja tidak cukup.

Adalah jelas bahwa riset tesis bukan proyek studi kelayakan. Dan adalah salah sekali jika melakukan penelitian tesis seperti mengerjakan proyek. Tetapi inilah kenyataan harus dihadapi dalam bulan2 ketat menjelang wisuda. Dengan alasan waktu wisuda yang mepet, banyak mahasiswa mengambil jalan pintas mengerjakan penelitian dengan comot data sana-sini dan contoh perhitungan tanpa mengkaji terlebih dahulu apakah data itu layak diacu atau perhitungan itu pantas untuk diikuti. Proposal dibuat sekenanya yang penting lolos dan bisa mengerjakan tesis.

Proyek dan penelitian adalah bentuk problem solving yang memiliki pendekatan sangat berbeda. Pada proyek, hasil yang lebih diutamakan sedangkan pada penelitian proses jauh lebih penting dibandingkan hasil. Pada proyek hal yang uatama diharapkan adalah hasil yg bisa memuaskan semua pihak, pihak yang mengerjakan (baca: konsultan) dan pihak yang memberi pekerjaan. Sedangkan penelitian, khususnya tesis, lebih kepada bentuk latihan menyelesaikan masalah secara sistematis, mulai dari pemahaman akan masalah itu, karakteristik masalah, metode yang spesifik, sampai jenis solusi yang terkait erat dengan metode dan pendekatan yang dilakukan.

Tadi baru saja mengikuti seminar tesis mahasiswa. Kesalahan mendasar yang sangat terlihat adalah pemahaman pada masalah yang akan dikerjakan dalam penelitian. Pemahaman ini adalah kunci dari sebuah penelitian, bahkan dapat dikatakan jika kita telah memahami masalah dengan baik maka sebenarnya kita telah menyelesaikan 50% dari masalah tersebut.

Bagaimana suatu pemahaman masalah dapat terlihat saat seminar proposal tesis. Seminar ini menjadi kunci dari akan baik atau buruknya suatu hasil penelitian nanti. Riset proposal adalah koridor ketat tentang pemahaman masalah, tujuan, batasan, motode yang akan digunakan, serta hasil yang seperti apa yang diharapkan. Banyak mahasiswa yang mengira kalau proposal adalah tahapan pekerjaan awal sebatas syarat untuk penyusunan tesis. Mahasiswa lebih fokus pada data yang akan dicari karena menurut mereka, data itulah yang akan menentukan seperti apa dan bagaimana riset akan dilakukan. INI SALAH BESAR.

Riset bukan pekerjaan coba-coba yang hasilnya bagaimana nanti. Riset pun bukan sekedar hitung ini itu dan kemudian hasilnya ditampilkan dalam bentuk grafik dan tabel. Proses suatu riset tidak ditentukan oleh data tapi ditentukan oleh apa yang tersusun dalam proposal riset. Data hanyalah pendukung dari proses sebuah penelitian bukan penentu jalan tidaknya penelitian. Proposal penelitianlah yang mengendalikan sedemikian rupa sehingga didapat data baik yang akan mendukung hipotesa atau permasalahan yang ingin dijawab dalam pekerjaan penelitian. Sebuah proposal yang baik harus sudah bisa memberikan gambaran utuh penelitian dengan sangat detil dan lengkap. Tidak ada data yang tidak terprediksi atau hasil yang tiba2 aneh dalam sebuah proposal yg baik. Metode yang akan digunakan serta skenario apa yang akan dikembangkan harusnya sudah terlihat dalam proposal, tidak ‘nanti saja’ setelah ada data.

Tingkat pemahaman mahasiswa terhadap permasalahan yang ingin dia jawab dalam tesis tercermin dari proposal yang disajikan. Kualitas hasil riset pun dapat ditebak dari bagaimana proposal riset dibangun. Kemampuan identifikasi masalah, strategi pemecahan masalah dan rencana kerja suatu penelitian tergambar dari kualitas proposal riset yang diperlihatkan. Kalau menyusun proposal saja sudah merupakan masalah untuk mahasiswa, bagaimana mereka dapat menjalankan risetnya. Alhasil, konsep ‘bagaimana nanti’ atau ’sedapetnya data nanti’ kembali menjadi andalan dalam membuat suatu penelitian.

Bagaimana sebuah masalah dapat diselesaikan kalau masalahnya saja belum dimengerti dan tidak dapat diidentifikasi dengan baik.

Willy Tumewu

Untuk sebagian orang, sosok dosen senior di Kelompok Keahlian Rekayasa Transportasi Program Studi Teknik Sipil ITB ini kurang begitu dikenal bahkan mungkin banyak yang berpikir tidak terlalu banyak kontribusinya. Apalagi sosok ini hanya memiliki gelar S2, yg kalau di ITB kadang dianggap sebagai kelompok dosen kelas dua.

Tapi bagi yang telah mengenalnya, tentu akan tahu bahwa dialah salah satu arsitek penting pendidikan tinggi bidang transportasi di Indonesia, khususnya bidang rekayasa jalan, lalu lintas dan keselamatan jalan. Kapakaran beliau di bidang geometrik jalan tidak perlu dipertanyakan lagi dan pengetahuan beliau tentang basic traffic engineering design dan keselamatan jalan telah banyak memberi bekal kepada ahli2 transportasi lulusan ITB. Beliau pulalah salah satu peletak dasar pendidikan transportasi bidang ke-PU-an di Teknik Sipil ITB yang kemudian banyak diadopsi oleh perguruan2 tinggi lain di Indonesia.

Memang sikap beliau yg begitu low profile kadang sangat low profile justru menenggelamkan nama beliau dan bahkan kontribusi beliau lebih banyak tersampaikan melalui orang lain yg justru mereka lah yg kemudian lebih dikenal. Tidak heran jika kemudian kepergian beliau yang tiba2 di Sabtu pagi tanggal 16 Mei kemarin terkesan biasa, bahkan amat biasa, bukan seperti kehilangan seorang profesor atau ilmuwan besar ITB.

Bagi saya, Pak Willy lebih dari sekedar dosen. Beliaulah salah dosen yang membuat saya mencintai bidang transportasi. Beliau pulalah yang kemudian banyak memotivasi saya untuk tidak bosan2nya mengembangkan pengetahuan. Bahkan, kalau saya lagi males2nya justru beliaulah yang mencarikan hal2 baru untuk saya. Sejak saya kembali ke ITB, selesai sekolah di LN, setiap makan siang, hampir setiap hari, beliau tidak bosan mengajak berdiskusi banyak hal tentang transportasi. Hampir setiap minggu, selalu saja ada yang baru yang saya dapatkan dari beliau. Beliau memang tidak bergelar PhD atau Dr. tapi wawasan dia jauh lebih baik dari mereka yg jelas2 memiliki ijazah S3. Gelar Prof. sangat layak beliau sandang, sayang sekali aturan yg ada tidak memungkinkan mendapatkan gelar prof tanpa ada gelar S3.

Selamat jalan Pak Willy. Nanti siang adalah kali pertama saya makan siang tanpa ada cerita dan diskusimu. Semoga Tuhan YME memberi penghargaan yg jauh lebih baik atas kontribusi seumur hidupmu untuk kemajuan pendidikan rekayasa transportasi di Indonesia.

pic of me 4I was born in Bandung, the capital city of West Java Province, Indonesia, on the 12th day of March. I grew up and finished my elementary to senior high school in Bandung. I took my undergraduate study of civil engineering in Bandung Institute of Technology (ITB). Soon after finished, I joined to the Department of Civil Engineering ITB. I got my master in civil engineering from ITB and Nanyang Technological University (NTU) of Singapore. I got scholarship from AUN/SEED-Net JICA to pursue PhD program in Chulalongkorn University (CU), Thailand. It was a PhD sandwich program between CU and Hokkaido University (HU), Japan.

My research interest is transportation engineering, especially public transportation and mass transit, environmentally sustainable transportation, transportation-land use integration, non-motorized transportation, and pedestrian. I have good experiences as well on highway engineering, especially geometric and pavement design.

Nowadays, I am a lecturer and researcher on the Study Program of Civil Engineering, Faculty of Civil and Environmental Engineering, Bandung Institute of Technology (previously, Department of Civil Engineering ITB). My office room is located in Jalan Ganesha 10 Bandung 40132 Indonesia. You might call me at +62 22 2502350 or facsimile me at +62 22 2512395 or even email me at sonyssw@si.itb.ac.id.

Tulisan Sebelumnya »